10 kunci Perkawinan bahagia
1. Cinta
Cinta merupakan energi yang dahsyat untuk mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian Anda dan suami. Cinta akan membantu membuang semua rintangan yang muncul di tengah perjalanan rumah tangga. Perkawinan yang dibangun tanpa landasan cinta sebetulnya adalah omong-kosong belaka. Meski bukan satu-satunya syarat, cinta sangat berperan dalam membangun perkawinan yang langgeng. Maka, cinta dalam perkawinan adalah sesuatu yang mutlak dan harus.
2. Seiman
Cinta saja tentu belum cukup untuk menciptakan perkawinan yang bahagia. Prinsip memilih suami yang seiman juga merupakan salah satu kunci dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga. Memang, banyak pula pasangan suami-istri beda agama yang juga bisa bahagia menjalani perkawinannya. Namun, sebaiknya jangan anggap enteng soal satu ini. Bisa-bisa, Anda dan suami akhirnya jalan sendiri-sendiri, sesuai iman masing-masing. Belum lagi kehadiran anak. Persoalan agama apa yang akan dianut anak seringkali juga memicu perdebatan yang panjang.
3. Saling percaya
Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.
4. Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua.
5. Ekonomi
Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, tak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak didukung oleh topangan ekonomi yang memadai. Mengatur ekonomi secara benar juga akan memberikan perasaan aman dan bahagia.
6. Kehadiran anak
Anak adalah karunia Illahi yang tak terkirakan nilainya. Perkawinan tanpa kehadiran anak seringkali memicu persoalan tersendiri. Banyak keluarga atau pasangan suami-istri yang sulit mendapatkan anak dan mati-matian berupaya dan berikhtiar agar mempunyai keturunan. Kehadiran seorang anak juga membuat suami-istri memiliki keterikatan dan tanggung jawab untuk membesarkan, merawat dan mencintai bersama-sama
7. Hindari pihak ketiga
Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara-gara pihak ketiga ikut main di dalamnya. Entah campur tangan mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga, dan sebagainya.
8. Menjaga romantisme
Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda.
9. Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.
10. Saling memuji dan memperhatikan
Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami, dan sebaliknya. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami-istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa-bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal, kok. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada suami.
Sumber : http://id.shvoong.com
DhofirPM
-
9:31:00 AM
Read More
Add your Comment
Hati-hati Saat Patah Hati
Patah hati memang sakit rasanya. Apalagi kalau cintanya sudah terlalu dalam, bisa-bisa berimbas pada kehidupan orang yang patah hati tersebut. Bahkan ada yang bilang kalau “Orang bisa mati karena patah hati”. Benarkah hal tersebut??
WAJAHNYA keruh seperti kali Ciliwung di bulan Desember. Rambutnya
awut-awutan seperti sapu ijuk. Matanya pun sembap sebesar buah duku.
Hampir tak ada lagi yang indah. Padahal sebulan sebelumnya, Rina
begitu cantik. Senyumnya enak dilihat, seperti melihat bunga mawar
di depan rumah. Suaranya pun merdu, seperti tengah berada di Albert
Royal Hall di Inggris.
Rina memang tengah mengalami dismetamorfosis. Bila ulat berubah
menjadi kepompong dan menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik, dia
sebaliknya. Dari perempuan yang lemah lembut dan ramah hati, berubah
menjadi buruk rupa dan perangai yang mengerikan. Untung saja, dia
masih mau makan dan minum. Bila tidak, rasanya sulit membedakannya
dengan gagang sapu di rumah.
Wat hepen. Aya naon. Semua karena Rinto. Pria lajang yang tinggal di
dekat kompleks rumahnya. Lelaki tinggi, berambut ikal, dan berhidung
mancung itu memang dahsyat. Wajahnya nyaris setampan Ari Wibowo,
hanya beda tipis. Punya suara yang memukau seperti layaknya Rinto
Harahap, tapi dengan musikalitas Glenn Friedly yang mampu melelehkan
hati wanita di mana pun.
Nah, tanpa sengaja muncul benih cinta antara dua tetangga itu.
Hingga akhirnya, sang pacar memutuskan cintanya. Gara-garanya, Rinto
kecantol wanita lain di kampusnya. Niat Rinto baik sebenarnya. Dia
tidak ingin membagi cintanya. Namun Rina ketiban rugi. Cinta Rinto
diluruhkan semuanya pada perempuan teman kuliahnya.
Rina jelas patah hati. Sebuah keadaan yang konon absurd. Sulit
dijelaskan dengan kata-kata, tapi rasanya sungguh tak enak. Makan
tak nikmat. Mata tak mau diajak terlelap. Inginnya mendengarkan lagu-
lagu melankolis, tapi di satu waktu inginnya segera mati. Hati kita
kan kenyal, nah kok bisa patah. Sungguh absurd bukan? Sekali kena
masalah ini, hidup bisa jadi takkan produktif. Bahkan bisa lebih
fatal akibatnya.
Di dunia ini, sudah tak terhitung orang yang memilih mati ketimbang
bergelut keluar dari rasa sakit hati. Bila dimaklumi memang. Orang
yang tidak berada dalam keadaan ini, boleh jadi menganggap itu
pekerjaan bodoh. Mereka yang terperangkap dalam keadaan ini merasa
tak tahan terhadap derita yang dirasakannya. Tak sedikit yang merasa
tindakannya under control. Prof Alex Garner, anggota the British
Psychological Society mengatakan, “Orang bisa mati karena patah
hati.”
Frank Tallis, ahli kejiwaan yang tinggal di London, sebagaimana
dikutip majalah The Psychologist, termasuk yang meminta para ahli
lebih mewaspadai penderita patah hati dan menangani mereka lebih
serius. “Meskipun sudah banyak riset dilakukan untuk menangani
masalah hubungan sosial dan psikoseksual, hanya sedikit yang
melakukan studi lebih dalam soal patah hati,” kata Tallis. Dalam
keadaan ekstrem, hubungan percintaan yang naik turun alias tidak
stabil, atau ditolak cintanya bisa membawa orang melakukan tindakan
di luar kendali.
Tapi tak semua patah hati berakhir di liang lahat. Mari kita pergi
ke Australia. Bertemu dengan trio Bee Gees alias Gibbs bersaudara.
Suatu ketika mereka pernah mengalami patah hati yang parah. Mereka
pun bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan mereka malah melahirkan
sebuah melodi yang indah. Lamat-lamat terdengar merdu, hingga
akhirnya terangkailah sebuah lagu dengan judul yang rasanya sudah
menjadi lagu wajib penggemar kelompok musik ini, `How Can You Mend A
Broken Heart?’
Lagu ini semula mereka tawarkan pada Andy Williams, penyanyi
lainnya. Namun belakangan mereka memilih untuk menyanyikannya
sendiri. Hasilnya, album Trafalgar sukses. Bisakah Anda menyembuhkan
rasa patah hati ini? Nah, berawal dari patah hati, mereka malah jadi
kesohor hingga ke belahan dunia lainnya.
Keberhasilan Bee Gees dan pemusik blues dalam menciptakan sebuah
melodi justeru karena adanya patah hati. Kalau mau, banyak
contohnya. Sila dengarkan musik blues. Sayatan gitar, suara yang
parau, dan melodi yang terdengar dari para pengusung musik ini
senantiasa berkisah tentang pedihnya sebuah patah hati. Ada pemeo di
dunia musik: seorang musisi blues takkan bermain musiknya dengan
baik bila dia belum pernah mengalami patah hati. Penghayatan?
Katakanlah begitu. Di negeri sendiri, beberapa lagu D’Masiv,
terutama ‘Di Antara kalian’ dan ‘Cinta Ini Membunuhku’ yang kesohor
itu, terinspirasi karena musisinya ditolak cintanya berulang kali.
So, hati-hati bila patah hati. Manusia sejatinya dapat hidup lebih
baik setelah dia mengalami patah hati. Jadi patah hati itu perlu.
Patah hati bila tidak dikelola dengan baik, memang bisa berakibat
fatal. Tentu tidak mudah mengatasinya. Ada banyak cara untuk
mengatasi sakit hati. Intinya, jangan membiarkan rasa sakit hinggap
berlama-lama.
Perbanyaklah kegiatan sosial. Kegiatan yang dapat membantu dan
meringankan beban orang lain. Penelitian membuktikan, bahwa menolong
orang lain mendatangkan perasaan bahagia. Apa saja? Banyak. Menjadi
anggota bakti sosial, panitia keagamaan, atau kegiatan lainnya yang
berguna.
Tekuni kembali hobi lama Anda, carilah kegemaran baru. Pada
kesempatan ini, mungkin Anda masih menutup diri terhadap kemungkinan
berkenalan dengan orang-orang baru. Tidak ada yang terlalu cepat
untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru, meskipun
hubungan Anda dengan kekasih baru berakhir beberapa hari.
Anda dapat juga membaca buku, majalah, atau putarlah film yang dapat
menggugah inspirasi Anda.
Kunjungilah sahabat atau keluarga terdekat bila perasaan kesepian
menghinggap sangat. Lakukan hal-hal yang menyenangkan, bermain tebak-
tebakan, kartu, atau ceritakan hal-hal yang ringan dan lucu.
Sejatinya, cobaan seberat apapun, termasuk patah hati, akan membuat
seseorang menjadi lebih kokoh, kuat dan lebih mengerti akan arti
kehidupan. Anggap saja kegagalan cinta hanya sebuah riak kecil di
lautan. Anggap saja sebagai ajang latihan, karena kita tidak pernah
tahu akan kehidupan yang terjadi di hari esok. Boleh jadi di masa
nanti, cobaan yang datang jauh lebih hebat. Tapi kita sudah siap
menghadapinya. Bila lebih enteng, tentu kita bisa lebih rileks
menghadapinya.
Violeta Parra, musisi asal Chile pernah melontar kata-kata indah
tentang hati yang remuk. “Saat matahari terbenam, tidak perlulah
menangis, sebab air mata yang menggenang akan menghalangi kita
melihat bintang-bintang yang datang kemudian.” Hmm, it’s so sweet.
Begitu indah. (101108)
– Alex Garner, the British Psychological Society
Sumber: Hati-Hati Saat Patah Hati oleh Sonny Wibisono
DhofirPM
-
9:35:00 AM
Read More
Add your Comment
I Love U SoMad
SUER.
Somad bukan cowok yang masuk itungan. Di kelas 2 IPS 3 nyaris nggak dianggap.
Orangnya lugu. Potongan rambutnya seadanya. Jangan-jangan dia motong
rambut sendiri lagi? Pokoknya out of date banget, deh!
Tapi
anehnya kok ya aku nggak bisa menghilangkan bayangan Somad begitu aja.
Aneh bin ajaib. Apa dia punya ilmu pelet sehingga aku jadi sering
merhatiin dia?
Eh,
tapinya terus terang aku merhatiin cowok lugu itu diam-diam, karena kalo
sampai ketahuan wah, bisa gempar sekolah ini! Bahkan seluruh sekolah di
selatan Jakarta ini.
Bayangin
aja, aku kan pernah jadi finalis cogirl, terus pernah ikutan syuting
sinetron, ya meskipun perannya nggak banyak tapi wajahku bisa dijadikan
patokan kalo aku ini lumayan kece… bur got! Hehehe.
Tapi
suer, makanya jangan heran kalo banyak anak cowok berkelas di sekolah
ini yang ngejar-ngejar aku. Tapi ya itu tadi, kenapa aku malah
sering-sering merhatiin Somad, seeh? Aneh!
***
SUMPE LUH!
Orang
nggak percaya kali ya kalo aku nggak pengin pacaran dulu! Aku bahkan
berani bersumpah nggak bakal pacaran selagi SMA! Makanya aku sama
sohibku, yang namanya Ririn, jadi klop banget.
Tapi…
ya itu tadi, sumpah anak ABG, boleh dibilang cuma jadi sumpah-sumpahan
aja. Begitu juga dengan Ririn. Waktu kelas satu, menjelang naik-naikan
kelas dua, ada anak cowok kelas tiga yang emang udah kesohor di
sekolahan, namanya Jacko. Aslinya sih Joko Sutanto, tapi lama kelamaan
berubah menjadi Jacko!
Si
Jacko ini kalo dibandingin sama Somad kaya siang dan malam. Yang jelas
Jacko ini anak orang kaya, ke sekolah boil-nya gonta-ganti. Emang, sih,
kendaraan itu semua punya bokap-nya tapi paling nggak kan nanti-nantinya
bakal nurun juga ke dia. Yang jelas semua cewek bertekuk lutut, deh!
Termasuk
diriku yang sebelumnya pernah bersumpah nggak mau pacaran. Bahkan aku
ama Ririn sepakat nggak bakalan kecantol ama si Jacko yang udah ketahuan
sering jalan ama cewek-cewek, baik dari sekolah ini maupun dari sekolah
lain!
Awalnya
memang Ririn duluan yang luluh, ketika dia didekati Jacko dan katanya
Jacko suka ama dia dan ujung-ujungnya Ririn pun nggak berkutik. Aku juga
kaget.
“Jadi lo jadian ama dia?”
Ririn ngangguk. Waduh.
“Kok bisa?”
“Enggak tau, aku sebetulnya udah nolak, tapi dia mendesak terus dan akhirnya aku juga nggak bisa apa-apa…”
Ya, amplop!
Lama
kelamaan aku juga suka merhatiin Jacko yang kalo dilihatin emang cakep,
ibunya Jawa dan bokap-nya turunan Portugis. Jadi, biar Jawa tapi rada
bule-bule gitu.
Eh, ini dia yang bikin runyem, karena tiba-tiba Jacko juga bilang suka sama aku.
“Eh, bukannya kamu sudah jadian sama Ririn?” tanyaku heran, tapi senang.
“Kayanya kami nggak cocok,” jawab Jacko, pendek.
“Tapi nggak bisa, aku nggak mau pacaran dulu…”
“Lho,
kita nggak pacaran, cuma bersahabat aja kok. Kalo aku mau curhat ada
yang mau dengerin, kalo aku mau jalan ada yang nemenin. Itu aja kok.”
“Eh, ya kalo begitu….”
Dan
ternyata mereka bukannya nggak cocok lagi, tapi Jacko telah berhasil
menduakan kami! Benar-benar brengsek! Bayangin aja, aku dan Ririn
dijadiin ceweknya sekaligus!
Tentu saja hubunganku dengan Ririn jadi renggang. Karena entah kenapa, aku jadi berusaha untuk bisa menguasai Jacko sepenuhnya.
“Aku nggak mau kamu lepas dari diriku…,” kataku. “Dan aku nggak mau kamu curhat ke orang lain!”
Ternyata begitu juga dengan Ririn yang sudah jatuh cinta banget sama Jacko.
Hm, ternyata Jacko bagi kita berdua adalah first love, sedangkan bagi Jacko, nggak taulah…!
Dan
malapetaka mulai terjadi ketika Jacko mulai kecantol cewek lain. Aku dan
Ririn mulai jarang dapat perhatian lagi. Bahkan Ririn terkadang suka
nekat melabrak Jacko, tapi itu tidak membuat Jacko kapok. Akibatnya
Ririn jadi gampang frustasi.
Aku juga jadi lunglai.
Yang bikin aku kaget adalah ketika aku dengar Ririn katanya sudah pernah menginap di hotel barengan Jacko. Astagfirullah!
Dan
ujung-ujungnya Ririn mulai mudah termenung. Aku sering memperhatikannya,
dan besoknya aku dapat informasi lagi kalo Ririn sudah mulai merokok!
Ya, Allah!
***
BENERAN!
Ririn sohibku yang baik. Aku tahu karakter dia. Kenapa dia bisa berubah seperti itu?
Aku
berusaha gentle. Aku mendatangi Ririn yang sebelumnya sudah menutup buku
denganku. Karena aku sudah mendengar berita Ririn sering bolos, aku
dekati Ririn untuk memulai hari baru dan melupakan masa lalu bersama
cowok brengsek itu.
Ririn membuka tangannya.”nanti gue tunggu di kantin.”
Aku kaget melihat Ririn menantiku sambil menghisap batang sigaret.
“Elo sekarang merokok, Rin?” tanyaku, terperangah.
Ririn tersenyum.
Seseorang membisikkanku di telinga, katanya Ririn juga sudah mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang.
“Kenapa sih lo?” tanyaku betul-betul kaget.
“Gue kecewa?” kata Ririn sambil mengebulkan asap rokok dari mulutnya. “Dia ngebohongin gue!”
“Tapi kan dia ngebohongin gua juga? Bahkan mungkin telah menipu beberapa cewek lain!”
“Iya,
gua tau, maka dari itu sebetulnya gue tuh kecewa bukan cuma ama dia aja,
tapi ama semuanya! Ya, ama diri gue juga, kenapa kok udah tau cowok
kayak begitu masih saja gue terima! Lo tau kan, kita udah sepakat nggak
bakal melirik dia, eh malah kita berdua jadi korbannya! Akibatnya
hubungan kita jadi berantakan, bahkan musuhan segala!”
“Iya, ya. Kenapa kita jadi bego begini?” aku geleng-geleng kepala.
“Terkadang yang sekarang gue pikirin cuma satu, gue pengin mati aja!”
“Eh, gila lo ye. Jangan gitu, dong! Lo harus tegar!”
“Gue
malu. Maluuu banget! Gue pengin pindah sekolah, tapi nggak mungkin.
Pasti nyokap gue nggak setuju dan dia bakalan tau kondisi anaknya yang
udah menjadi kacau seperti ini!”
“Tenang Rin, lo harus tenang…!”
Sejak
saat itu, kantin pojokan jadi tempat favorit buat kami berkeluh-kesah,
dan gobloknya lagi, kok aku jadi ikut-ikutan merokok juga!
“Bisa buat ngusir stres, nih.”
“Masa, sih?”
“Coba aja.”
Kami
mencari tempat paling pojok dan ngerokok di sana. Dan anehnya tempat itu
jadi tempat berkumpulnya orang-orang frustasi. Malahan sebagian anak
menjuluki beberapa anak yang suka berada di tempat itu sebagai korban
Jack-gatte!
Yang
jelas, benar kata pepatah yang mengatakan; kalo main api, kepanasan,
kalo main air, kebasahan. Begitu juga kalo kita banyak ngobrol sama
anak-anak nggak benar. Nggak usah nunggu lama, deh, yang namanya rokok,
ganja, obat-obatan, shabu, putau, dan lainnya jadi nggak asing lagi.
Begitu juga dengan kami berdua, yang tadinya cuma dengar-dengar aja,
nggak tahu kenapa jadi enteng aja untuk mencoba itu semua!
Tiap
pulang sekolah, kami berdua janjian untuk menikmati obat-obatan
terlarang. Rumah Ririn sering kosong. Nyokap-nya yang single parent itu
banyak bisnisnya.
“Eh, bener, stres jadi ilang!” kataku.
“Bukan cuma stres yang ilang, pikiran kita juga bisa ilang!” saut Ririn sambil nyengir.
Kami
berdua memang sudah bisa melupakan Jacko yang handsome dan selalu ‘tepe’
(tebar pesona) itu. Tapi kok sekarang jadi nggak bisa ngelupain
obat-obatan? Hampir tiap hari pasti ada aja yang nawarin ke kami.
“Mau nggak lo? Gratis, nih! Yang penting lo hepi gue hepi!”
Sampai
kemudian Ririn sakit dan dibawa ke dokter oleh mamahnya. Dan mamanya
marah banget begitu tau kalo anaknya jadi pecandu. Bahkan mamanya akan
memindahkan Ririn ke sekolah lain dan mencap sekolah itu menjadi sekolah
buruk!
Padahal
sekolahan sih tetap baik, tapi anaknya aja yang lagi nggak benar. Dan
lebih buruk lagi, adalah ketika Mama Ririn menuduhku sebagai biang
keladi dari perubahan karakter Ririn! Aku kaget sekali, dan kaget lagi
ketika Mama Ririn juga mengancam akan lapor pada polisi.
“Awas kalo kamu mendekati Ririn lagi!”
Duh,
aku menjadi takut. Gimana kalo aku diperiksa, disuruh tes urin, terus
ketahuan aku juga pernah mengonsumsi benda-benda terlarang, dan kemudian
ditangkap di penjara? Hiiih, bulu kudukku berdiri!
Aku
langsung bertekad untuk tidak lagi mengonsumsi barang-barang itu, tapi
anehnya susah banget. Biarpun Ririn sudah nggak ada, aku masih saja
dapat jatah dari beberapa anak kelas tiga yang memang suka menawarkan
benda-benda itu di sekolah.
Sampai
akhirnya Mama Ririn betul-betul memanggil pihak berwajib untuk
memeriksa teman-teman dekat Ririn, dan aku yang kebetulan membawa satu
sachet obat terlarang, sangat ketakutan.
Keringat
dingin langsung keluar. Kebetulan Mama Ririn datang pas jam istirahat,
sehingga aku bisa sembunyi di kamar mandi, lalu mengunci pintunya dari
dalam.
Tadinya
aku ingin membuang saja obat-obat itu ke dalam kloset, tapi aku merasa
sayang dan akhirnya aku minum semuanya! Dan apa yang terjadi
sodara-sodara, aku langsung OD (over dosis)! Aku pun terkapar dengan
mulut berbusa di kamar mandi!
***
HONESTLY.
Pagi
itu Somad seperti biasa datang pagi-pagi. Aku kebetulan memang sudah ada
di situ. Dan biarpun dia langsung mengeluarkan buku catatannya dan
menulis-nuliskan sesuatu, aku senang mencuri-curi pandang kepadanya,
yach meskipun dia juga nggak membalas pandanganku …, aku sih cuek aja.
Jujur
aja, kalo dilirik orang sih aku sering, tapi melirik orang jarang-jarang
lho. Seperti sudah aku bilang, kepada Somad kok jadi lain? Tapi aku
tetap nggak berani bilang ke siapa-siapa kalo aku sekarang mulai senang
melempar lirikan ke Somad.
Ya,
akhirnya aku memang suka sama Somad. Dia seperti batu karang di tengah
lautan yang tidak terpengaruh oleh ombak besar. Dia tetap sama menjadi
out of date diantara kemoderenan yang hadir menggelora di tengah-tengah
sekolahku.
Dia
tetap saja suka ke musala, mengerjakan salat, atau kemudian bikin
acara-acara keagamaan meski seringkali diejek dan tidak diminati sama
sekali. The Somad must go on!
Pernah
dia bikin acara di tengah lapangan basket, tapi kelihatan yang sibuk
cuma panitianya aja, yang datang juga mereka-mereka aja, tapi aku lihat
Somad tetap semangat!
Beda
waktu Jacko bikin acara musik, wah, satu lapangan penuh! Satu sekolahan
ikut membantu! Dan anehnya Somad waktu itu, nggak terpengaruh, tuh! Dia
terus saja ke musala! Diam-diam aku salut padanya.
Dan rasanya sikap seperti itu harus aku tiru biar aku juga punya ketegaran yang kuat!
Ada
keinganku untuk bergaul dengan Somad, tapi anehnya kok ya nggak berani.
Aku ingin bergaul dengan komunitasnya, tapi kok merasa malu? Apalagi
sekarang, udah jelas nggak bisa!
Terkadang
aku juga memperhatikan Jacko yang masih aja nggak berubah. Dia punya
gank yang terdiri dari cowok dan cewek keren. Aku, meskipun pernah jadi
pacarnya, nggak pernah disapanya lagi.
Aku
dianggapnya sebagai lalat yang pernah hinggap di pundaknya yang dengan
mudahnya ia usir begitu saja. Luar biasanya, kenapa bisa ada manusia
seperti itu? Dan bodohnya lagi, kenapa aku juga mau menjadi seekor
‘lalat’?
Kini
aku hanya bisa sendiri memperhatikan itu semua. Ririn sudah tidak ada
lagi. Entah sekolah di mana dia sekarang. Tapi aku berharap dia sudah
berubah, menjadi Ririn yang dulu lagi.
ALHAMDULILLAH.
Bel pulang berdentang. Anak-anak pun pulang.
Aku lihat Somad juga siap berkemas. Aku memperhatikannya sampai dia keluar pintu kelas.
Sekolah
mulai sepi. Aku tetap sendiri di sini. Aku tidak bisa ke mana-mana,
entahlah kenapa tempat itu menjadi melekat olehku. Aku dengar dia ingin
mengumpulkan siswa yang sering ke musala untuk menyumbangkan sebuah doa …
entah untuk siapa?
Tapi
katanya untukku? Masa, sih? Mereka mau berdoa untukku? Oh, luar biasa,
aku jadi semakin sayang sekali pada Somad. Sungguh, I Love You Somad, I
Love You Su Much!
Aku
janji, seandainya saja mereka mengetahui bahwa aku mulai sering
memperhatikan Somad, aku tidak akan malu lagi, dan aku berharap bisa
bergaul sama sahabat-sahabatnya, tapi sayang kini aku sudah…ah, aku tak
kuasa … menceritakan ini semua pada kalian…
Yang
teringat olehku hanyalah ketika terkapar di kamar mandi itu, aku melihat
samar-samar pintu dibuka paksa, dan aku lihat Somad masuk, sementara
aku melihat yang lain berteriak, berlari dan menjauh, sementara Somad
berusaha menggotongku ke ruang UKS.
Somad
berusaha menyadarkanku, tapi rupanya obat yang aku telan terlalu banyak
dan akhirnya …. Oh, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya pada
diriku di alam kehidupan lain yang hingga kini masih gamang aku jalani….
Oh, Tuhan bisakah dosaku Kau maafkan?
***
Muharram 1426 H
DhofirPM
-
6:05:00 AM
Read More
Add your Comment
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana
Penulis : Inayati
Aku
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret
2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga
kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan
masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan
pelik.
Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi.
Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku
menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak
apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi
ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen
rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin
mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik
napas panjang.
Heran,
apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku
mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak
ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah
muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan
aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan
kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa
mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku
cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian
dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi,
masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah
mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal
titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan.
Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun
perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa
kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang
sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk
di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam
keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah,
beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya,
hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin
berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan.
Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali
baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen,
kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku
heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis
yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya
bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja,
kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum
saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.
”Kamu
kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku
sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi,
apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik.
Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu
pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti
layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi,
semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu
yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya
dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk
memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk
bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu.
Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.
Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku
saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa
Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa
basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia
selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau
awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku
berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah
Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi
terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan
hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak
orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku
terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu
keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa.
Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan
istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya
perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku
membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya,
selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir
tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku
dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin
beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan?
Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di
kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya
yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen,
kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan
yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.
Aku
memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku
kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk
Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian
tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan
waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari
agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya
dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini.
Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia
bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya?
Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku
segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah
dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan
malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan
rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima
smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku
terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding,
jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di
sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’
tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.
DhofirPM
-
6:01:00 AM
Read More
Add your Comment
5 Kebiasaan Pria yang Paling Sulit Diubah
Meskipun ada beberapa hal yang bisa Anda ubah dari pasangan; misalnya sikap, cara berbusana dan kebiasaan bersih-bersih. Tapi ada pula kebiasaan si dia yang tidak bisa diubah, sekeras apapun Anda berusaha. Memaksakan keinginan yang tak mungkin terwujud hanya akan menimbulkan banyak konflik dan menghancurkan hubungan asmara. Untuk itu, Anda perlu tahu, apa saja kebiasaan pria yang sulit diubah?
1. Rutinitas Kumpul dengan Teman-teman
Tidak peduli berapa umur mereka, pria senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Anda harus bisa menerima hal ini layaknya Anda ingin dberikan keleluasaan pergi shopping atau arisan bersama teman-teman wanita Anda. Banyak wanita khawatir momen ini merupakan kesempatan untuk berselingkuh. Ya, hal ini memang besar kemungkinan terjadi dalam banyak kasus. Namun Anda jangan berpikir negatif dulu, pertemanan penting bagi semua orang. Dan bagi si dia, hal ini bisa membantu melepaskan stress.
2. Kebiasaan Si Dia Menggunakan Uang
Uang terkenal sebagai salah satu alasan banyak pasangan mengakhiri hubungan. Jika Anda melihatnya sebagai orang yang tidak bisa menabung, hal ini bisa berubah seiring berjalannya waktu. Namun tiap orang memiliki jalan masing-masing dalam hal belanja, mencari uang, hingga menabungnya. Konflik seperti ini sebaiknya dihindari dan biarkan ia mengurus keuangannya sendiri. Selama masih dalam batas wajar, Anda cukup mengurusi finansial diri.
3. Kesukaan
Bagi pria, hobinya adalah bagian dari ekspresi diri. Jika hobinya begitu mengganggu, berarti Anda harus mempertimbangkan untuk berpisah. Yang bisa dinegosiasikan adalah, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk hobinya dibandingkan dengan Anda. Jika akhir minggu adalah waktu baginya melakukan hobi namun Anda tidak diikutsertakan, carilah hobi Anda sendiri atau habiskan waktu bersama teman-teman.
4. Kebiasaan Meniru Gaya Berbicara Pasangan
Dalam kehidupan pria, ada kebiasaan meniru suara (mimik) yang mengganggu. Saat beradu pendapat, bisa jadi ia menirukan gaya Anda bicara dan hal ini membuat Anda makin emosi. Anda bisa saja memintanya untuk tidak mengulang hal tersebut, namun sulit untuk tak terulang lagi. Terimalah hal tersebut dan jika Anda mau, cobalah membalasnya. Jika ia tidak bisa menerimanya, Anda berarti memiliki pasangan dengan ego tinggi. Pilihannya, membiarkannya atau hentikan obrolan saat itu juga.
5. Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang, entah itu pria maupun wanita akan sulit berubah meskipun telah menikah. Jika ia makin hobi makan dan menggemuk tanpa olahraga sejak saat pacaran, sulit untuk mengharapkannya menjadi seseorang yang menjaga pola makan dan gaya hidup sehat pasca menikah nanti. Jadi, terimalah dia apa adanya. Yang bisa Anda lakukan adalah menyajikannya makanan yang sehat atau membawanya ke resto yang jauh dari makanan menggemukkan favoritnya. Ultimatum dokter ketika ia mencapai kondisi kronis mungkin hanya jalan satu-satunya untuk mengubah kebiasaan hidupnya yang jelek.
DhofirPM
-
3:25:00 PM
Read More
Add your Comment
Naksir dengan Pria? Ini Tips untuk Mendekatinya
Ada trik khusus saat PDKT dengan pria agar Anda tidak terlihat genit dan tidak tampak bahwa Anda sangat berharap jadi kekasihnya. Cara berikut ini dapat membuka jalan si dia untuk mendekati Anda juga pada akhirnya. Simak tipsnya yang dirangkum dari Love Panky dan Marie Claire.
1. Berani Menatap Matanya
Jangan malu untuk menatap matanya, namun jangan dengan tatapan kaku atau galak. Ada istilah yang mengatakan 'tersenyumlah dengan mata'. Berikan tatapan yang manis dan lembut ke arah matanya, kemudian Anda bisa melihat gerak bibirnya. Cara ini bisa membuat si pria jadi salah tingkah dan menyukai Anda.
2. Meminta Pertolongan
Ketika Anda sudah mulai dekat dengan pria mintalah pertolongan. Pertolongan kecil seperti memintanya untuk memilihkan kado yang akan Anda berikan untuk teman atau keluarga akan membuatnya merasa dibutuhkan. Si dia merasa senang bisa membantu Anda.
3. Berikan Pujian
Pria suka dengan pujian. Hal itu membuatnya merasa dihargai dan dipuja. Apalagi jika Anda memuji kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Tidak perlu juga berlebihan, cukup sampaikan terimakasih ketika dia memberi Anda perhatian.
4. Banyak Tersenyum & Tertawa
Pris suka wanita yang memiliki aura positif. Cara menunjukkannya adalah dengan banyak tersenyum dan tertawa. Tunjukkan kehangatan ketika berbicara. Jangan jadi arogan, sombong dan kasar.
5. Perhatian
Semua orang suka diberi perhatian. Jangan sungkan memberikannya perhatian kecil seperti saat ini sedang musim hujan dan rawan flu dan batuk, ingatkan dia untuk lebih rajin minum vitamin. Pasti si dia merasa senang diingatkan seperti itu. Meski kecil, tapi hal tersebut bisa sangat berarti.
6. Menyentuhnya
Salah satu cara yang bisa membuatnya berbalik untuk flirting dengan Anda adalah dengan memberikannya sebuah sentuhan. Sentuhan lembut di bagian tangan dan pundak bisa membuatnya merasa spesial. Tindakan Anda tersebut juga sebuah bentuk dukungan untuknya. Tapi ingat, jangan terlihat 'nakal' dengan sentuhan-sentuhan yang Anda berikan. Bisa-bisa si dia malah ilfil.
7. Tarik Ulur
Ketika si dia sudah mulai memberikan respon positif, permainan tarik ulur tetap harus dilakukan. Cara tersebut membuat Anda terlihat misterius dan membuat si dia berbalik penasaran. Caranya dengan tidak menghubungi si dia seharian. Kali ini biarkan si dia yang berusaha mendekati Anda. Si dia pun merasa tertantang untuk mendapatkan hati Anda.
DhofirPM
-
3:24:00 PM
Read More
Add your Comment

